Overhead Cost RAB Bukan Profit! Ini Adalah “Nyawa Cadangan” Cashflow Kontraktor

Dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), sering terjadi kesalahpahaman mendasar, baik di kalangan estimator pemula maupun pemilik proyek (Owner) yang awam. Mitos yang paling sering terdengar adalah:

“Wah, kontraktor menaruh overhead 10% ditambah profit 10%, berarti keuntungan bersihnya 20% dong?”

Pernyataan tersebut SALAH BESAR.

Menyamakan Overhead Cost RAB dengan profit adalah resep bencana bagi kesehatan finansial perusahaan konstruksi. Overhead bukanlah keuntungan, melainkan biaya operasional untuk “menjaga lampu perusahaan tetap menyala”.

Lebih dari itu, pos ini berfungsi sebagai jaring pengaman (safety net) atau “nyawa cadangan” saat proyek meleset dari rencana. Artikel ini akan membedah mengapa Anda tidak boleh sembarangan memangkas biaya overhead.

Mengatasi Biaya Waktu (Time-Related Cost)

Proyek konstruksi penuh dengan ketidakpastian. Katakanlah sebuah proyek dijadwalkan selesai dalam 3 bulan. Namun, karena manajemen internal yang kurang rapi atau adanya revisi gambar yang masif, proyek mundur menjadi 4 bulan.

Secara material, mungkin tidak ada penambahan volume. Namun, Biaya Waktu terus berjalan.

  • Siapa yang membayar gaji Project Manager (PM) untuk ekstra 1 bulan tersebut?
  • Siapa yang menanggung sewa Direksi Keet, tagihan listrik, internet, dan sewa scaffolding yang masa pakainya habis?

Jika Anda mengambil biaya-biaya ini dari pos Profit, maka Anda dipastikan akan merugi (boncos). Di sinilah Overhead Cost bekerja. Dana ini dialokasikan untuk menutupi burn rate operasional ketika durasi proyek molor.

Fungsi Penyelamat 2: Kompensasi Risiko dan “Bocor Alus”

Pernahkah Anda mengalami kejadian di mana hasil opname mandor lebih besar daripada progres fisik riil di lapangan? Atau terjadi kesalahan hitung volume borongan di awal sehingga terjadi kelebihan bayar (overpaid)?

Ini adalah realita lapangan yang pahit namun sering terjadi.

Ketika pos Direct Cost (Upah) sudah merah, dana taktis dari Overhead Cost RAB dapat dialihkan sementara untuk menambal celah (gap) cashflow mingguan. Tujuannya sederhana: agar tukang tidak mogok kerja karena gaji telat. Meskipun ini bukan praktik manajemen yang ideal, ini adalah “survival mode” yang menyelamatkan proyek dari mangkrak.

Rumus Break Even Point dalam Konstruksi

Sebagai estimator profesional, Anda harus memegang teguh rumus dasar ini:

Direct Cost (Material + Upah) + Indirect Cost (Overhead) = Break Even Point (Titik Impas).

Profit atau keuntungan murni baru tercipta SETELAH pos Overhead aman.

Jika Anda tidak menghitung overhead dengan detail—misalnya hanya “menembak” angka 5% tanpa dasar—maka saat terjadi masalah internal, Anda terpaksa akan menggerogoti uang material. Inilah awal mula kualitas bangunan menurun dan proyek berpotensi gagal.

Studi Kasus: Human Error di Workshop Interior

Mari kita lihat simulasi nyata pada proyek interior senilai Rp 500 Juta, di mana Overhead Cost diatur sebesar 8% (Rp 40 Juta).

Tiba-tiba, tim produksi di workshop melakukan kesalahan potong pada material HPL (Human Error). Kerugian material tercatat sebesar Rp 5 Juta.

Uang pengganti material ini diambil dari mana? Jangan memotong gaji tukang, karena itu akan menurunkan moral kerja. Ambilah dari alokasi contingency yang ada di dalam keranjang Overhead perusahaan. Itulah gunanya dana tersebut dicadangkan sejak awal.

Komponen Overhead Cost yang Wajib Dihitung

Jangan pernah malu mencantumkan biaya overhead secara transparan. Ini adalah biaya riil (Real Cost), bukan mark-up jahat. Berikut adalah komponen yang wajib masuk:

  1. Gaji Staff Tak Langsung: Biaya untuk Admin, Estimator, Logistik, dan Driver yang mendukung proyek dari kantor pusat.
  2. Office Running Cost: Biaya operasional kantor seperti listrik, air, sewa kantor, dan ATK.
  3. Depresiasi Alat: Biaya penyusutan bor yang rusak, genset yang harus turun mesin, atau kendaraan operasional.
  4. Cost of Fund: Bunga bank (jika proyek didanai oleh pinjaman modal kerja).

Kesimpulan: Jangan Memangkas ‘Airbag’ Anda

Memangkas Overhead Cost RAB demi memenangkan tender dengan harga murah adalah tindakan bunuh diri.

Ibarat mengendarai mobil, Overhead adalah airbag dan sabuk pengaman Anda. Mobil bisa melaju kencang tanpa keduanya, tetapi saat terjadi benturan (masalah proyek), cashflow Anda akan langsung mati di tempat.

Protect your overhead to protect your profit.